unofficial site of tukang sablon

Sedikit menulis,jika ada kesamaan nama orang lokasi tempat,berarti kebetulan yang tidak saya sengaja :D

yang muda yang berbahaya,, Juni 16, 2009

Diarsipkan di bawah: Tidak terkategori — tukangsablon @ 8:48 am

Berawal dari sebuah milis komunitas pengguna Linux yang saya ikuti, saya ketemu dengan seorang member yang cukup aktif memberikan kontribusi di milis. Saya coba menelusuri web beliau,, dan ternyata,, setelah saya liat page about me nya ,,, dia masih smp sodara sodara ,, :D .

Kejadian bertemu dengan generasi muda Indonesia yang addicted sama monitor komputer  saya alami lagi kemaren. Kemaren saya ingin tahu gimana caranya bikin bot di multiplayernya COD 4 .Setelah cari sana sini, ketemu juga web yang cukup jelas neranginnya. Saya iseng liat profilenya , dan,, ternyataa,,,, si pemilik web ini masih SD sodara sodara,,,,wooow . Di halaman profilenya tertulis juga klo cita-citanya adalah menjadi Programmer!! ya,, programmer,,, bukan dokter, pilot ,  ato bahkan guru ,, , :D

Sejenak saya sempat teringat kembali masa kecil saya.Bersepeda menelusuri halaman tetangga di desa ( di desa saya pekarangannya luas dan gak ada pagar antara rumah satu sama yang lain dulu ), bermain bola antar bocah kampung di tiap sore , ato bahkan sangkutan(bermain layangan yang diadu dengan senar gelasan) . Jauh berbeda dengan mainan  2 bocah yang saya sebutkan di atas.

kids

kids

Terlihat jelas klo  teknologi sekarang tidak hanya dimonopoli sama kaum dewasa.Namun apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran?

Saya sendiri melihat hal ini justru dari sudut pandang pesimistis.Pembentukan pribadi anak yang baik seharusnya dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Coba kita bandingkan antara bermain sepakbola dengan bermain multiplayer COD 4 . Cakupan kedua permainan itu berbeda jauh. Bermain sepakbola berarti kita bermain dengan anak sebaya yang ada di lingkungan sekitar. Otomatis kita terdidik sesuai dengan budaya lingkungan kita. Lain halnya dengan multiplayer game online yang terlalu luas cakupannya. Bisa saja si anak malah terpengaruh budaya lain .Mungkin si anak punya banyak teman di dunia maya , tapi apakah cara bersosialisasi di dunia maya sama dengan dunia nyata,? tentu saja tidak menurut saya. Akibatnya dia akan sulit bersosialisasi di kehidupan nyata.

Ditinjau dari sifat permainannya, permainan jaman dahulu menggunakan fisik dan otak, beda jauh dengan permainan jaman sekarang yang hanya menggunakan otak dan sedikit fisik ( cuman jari doank  :D ) .

Saya tidak menjudge kedua anak di atas termasuk “yang lebih mengutamakan teknologi”.Saya tidak menolak teknologi untuk anak anak,, hanya saja semua itu perlu proporsi yang pas . Saya cuman khawatir sifat anak – anak yang masih susah mengendalikan diri akan membuat teknologi justru menghancurkan masa depan mereka.

*ilustrasi gambar diambil dari : http://horizonproject2008.wikispaces.com/CWeb+Education